areaseoku45 - Emang Kuliah Itu Penting?


Universitas Swasta Terbaik di Jakarta - Saya yakin Anda makan pernah melihat satu gambar, meme, atau bahkan artikel tentang orang-orang sukses dan kaya yang bahkan tidak lulus kuliah. Jangan luar biasa, sekarang kita banyak menemukan para profesional yang hebat dari bidangnya, tetapi sekarang tidak ada relevansinya dengan jurusan kuliahnya dulu.
 
Karena itu, munculah satu pertanyaan besar, apakah Mark Zuckerberg, James Cameron, Steve Jobs, Bill Gates dan orang-orang besar lainnya dapat berhasil tanpa gelar akademis, apakah kuliah itu masih relevan di dunia profesional?
 
Jawaban singkatnya, masih. Kenapa? Mengabaikan Anda memang sepintar dan berhasil melewati Bill Gates atau Zuckerberg, Anda masih butuh kuliah perguruan tinggi, setinggi mungkin.
 
Saya punya beberapa argumen mengapa saya setuju seperti itu. Mari kita bahas satu untuk satu.
 
1. Bias Kognitif
 
Saya tidak akan berbasis-pangkalan di sini. Jadi, kita akan langsung ke faktor pertama yang menurut saya paling mempengaruhi.
 
Nyatanya, setiap kita pasti punya bias kognitif. Anda dapat membaca tulisan saya tentang bias konfirmasi yang saya tuliskan beberapa waktu yang lalu. Namun, sederhananya, otak kita menggunakan jalan pintas dalam mengambil kesimpulan dan jalan pintas ini penuh dengan bias kognitif.
 
"Jika ada sesuatu yang ingin Anda percayai, itulah yang paling Anda butuhkan." - Penn Jillette
 
Misalnya saja seperti ini, katakanlah ada 2 orang pelamar kerja, Broto dan Michael. Broto adalah lulusan S1 sedangkan Michael hanya lulus dari SMK. Jika kita mau jujur ​​dengan diri sendiri, seringnya, kesan pertama yang muncul dari otak kita adalah Broto lebih pintar dari Michael.
 
Orang-orang HRD Universitas Swasta Terbaik di Jakarta dan para pengambil keputusan dari sebuah perusahaan juga, setahu saya, masih manusia dan mereka tidak terhindar dari bias kognitif tadi. Mereka yang mengembangkan universitas ternama juga lebih suka menentang mereka yang mengerti universitas yang kurang populer.
 
Memang, faktanya, belum tentu yang lulus S1 itu lebih pintar dari yang lulus SMK, yang S2 lebih pintar dari yang lulus D3, atau komparasi-komparasi jenjang akademis lainnya. Kenapa?
 
Karena, sebagian besar dari kita bisa kuliah dan kuliah di universitas mana itu hanya karena beruntung. Yup, beruntung karena kita lolos dari keluarga yang lebih mampu dari mereka-mereka yang tidak bisa kuliah.
 
Universitas tempat kita kuliah itu sebenarnya bisa jadi tidak relevan dalam menentukan tingkat kepintaran. Kenapa saya bisa bilang demikian?
 
Lihat saja kawan-kawan sekelas atau sejurusan Anda sekarang, atau sekarang buat angkatan tua. Apakah mereka semuanya memiliki tingkat kecerdasan yang sama? Saya yakin tidak.
 
Saya sudah jadi reviewer produk sejak 2008 dan saya tahu spesifikasi atas kertas itu hanya menentukan 50% dari kinerja produk yang sebenarnya. Demikian juga dengan para pekerja.
 
Itu masih produk gadget, perangkat keras PC, atau game. Kualitas seorang profesional lebih buram lagi hanya perlu dilihat dari spesifikasi atas kertas karena ada faktor emosional dan daya juang yang tidak akan pernah bisa meningkatkan spesifikasi sebelumnya.
 
Namun demikian, membantah, masih banyak sekali orang-orang yang memang tidak mengerti bias kognitif itu tadi. Karena itu, jika Anda punya kesempatan untuk kuliah, kuliahlah Universitas Swasta Terbaik di Jakarta.
 
2. Lebih Banyak Koneksi dan Lebih Banyak Kawan
 
Inilah argumen kedua saya mengapa kuliah itu penting. Mengapa saya membedakan antara koneksi dan kawan dari atas? Karena memang fungsinya berbeda.
 
Apa yang saya maksud dengan koneksi? Mereka-mereka yang sudah bekerja cukup lama tahu tentang koneksi itu tidak perlu mengerti semuanya.
 
Misalnya, kompilasi perusahaan mencari pekerja baru, perusahaan ini juga akan meminta para pekerjanya apakah mereka punya teman-teman yang bisa diajak bergabung dengan perusahaan tersebut.
 
Teman-teman yang biasanya terpikirkan oleh para pekerja tadi, tidak jarang, adalah kawan satu sekolah atau kuliah dulu.
 
Memang, hal ini biasanya terjadi hanya untuk mereka-mereka yang tidak punya banyak pekerjaan karena mereka-yang sudah bekerja cukup lama makan punya kawan-kawan baru dari industri yang sama - yang bisa jadi bukan teman sekolah atau kuliah.
 
Lalu, apa yang saya maksud dengan kawan yang saya maksud dari sub-topik ini? Kawan yang saya maksud adalah teman-teman yang mungkin memang fungsinya tidak praktis atau tidak langsung dalam dunia kerja, seperti soal koneksi yang saya contohkan sebelumnya.
 
Ijinkan saya bercerita tentang kawan-kawan saya dulu https://forum.norbrygg.no/members/universitas.52866/. Saat saya kuliah dulu, saya ikut dalam berbagai macam komunitas: komunitas para pecinta sepak bola dan PES, komunitas gamer, geek, dan nerd, komunitas para pecinta dan pemain musik, dan komunitas para idealis (suka saya panggil) yang suka berdiskusi tentang ilmu sastra dan filsafat.
 
Kawan-kawan itu tadilah yang sebenarnya berjasa membentuk saya sampai hari ini. Mereka adalah salah satu faktor yang membentuk pola pikir saya saat ini. Keberagaman komunitas itu sebelumnya juga yang membuat saya sekarang tidak canggung saat berkenalan dengan kawan-kawan baru.
 
Memang, kita juga bisa punya kawan-kawan septa jenjang tadi SMA atau SMK. Namun biasanya, universitas memiliki skala yang lebih besar. Anda bisa bertemu dengan kawan-kawan yang lebih beragam dari universitas, tingkat SMA, dan sederajat.
 
3. Membentuk Pola Pikir Utama
 
Saya tahu sebenarnya banyak sekali dan ilmu yang bisa kita bahas saat ini bisa relevan dengan dunia profesional.
 
Namun, saya yakin betul tempat kita kuliah, sedikit banyak, membentuk pola pikir utama kita.
 
Ijinkan saya kembali jadi contohnya. Saya dulu kuliah Sastra Inggris dan, menurut dosen-dosen saya, anak-anak Sastra Inggris sebenarnya bukan pengganti untuk sastrawan atau penulis, tapi jadi kritikus sastra.
 
Karena itu, saya jadi seseorang yang sangat percaya pada relativitas kebenaran, tergantung pada perspektifnya. Kenapa? Karena saya dulu pernah membahas tentang kritik sastra bisa dari sejarah, psikologi, sosial, budaya, politik, atau sebaliknya filosofis http://academic-ebooks.com/home.php?mod=space&uid=593722.
 
Hal yang membuatku gila, seperti sekarang ini ... wkwkwkwkwkw ...
 
Saya yakin mereka yang kuliah jurusan yang berbeda akan memiliki pola pikir yang berbeda juga. Bahkan sebenarnya mereka juga sama-sama kuliah sastras, makanan punya pola pikir yang berbeda.
 
Namun, saya percaya bahwa masa-masa kuliah tersebutlah yang mematangkan saya tentang pola pikir tersebut. Mereka-mereka yang tidak beruntung dan tidak bisa kuliah harus mencari yang lain untuk memecahkan pola pikir mereka.
 
Pola Pikir Yang Matang Inilah Aku Kira Penting Untuk Dunia Kerja Dan Mengejar Karir, Tetap Harus Harus Saya Akui Mereka-Mereka Yang Kulia Juga Belum Tentu Punya Pola Pikir Yang Lebih Matang Ketimbang Mereka Yang Tidak Kulia.
 
Karena, faktanya, banyak juga mahasiswa yang hanya mencari nilai atau malah hanya mengikuti keinginan orang tuanya, tanpa benar-benar mencari ilmu dan menyelesaikan tantangan untuk berpikir.
 
Mereka-mereka yang sudah punya pola pikir matang, biasanya sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan dan menyelesaikan masalah. Kedua hal tersebut, saya kira adalah dua hal yang paling penting dari dunia profesional.
 
Itu tadi 3 argumen saya mengapa kuliah itu penting. Namun demikian, saya harus menyetujui kuliah yang sebelumnya meningkatkan peluang Anda dalam berkarir. Anda bisa belajar lebih mudah saat duduk di bangku kuliah. Anda bisa mendapatkan lebih banyak kawan dan koneksi. Anda juga bisa lebih terhindar dari diksriminasi bias kognitif yang saya sebutkan dari argumen pertama saya.
 
Jadi, jika Anda memang punya peluang untuk kuliah setinggi mungkin, kuliahlah. Mereka-mereka yang bisa sukses tanpa gelar akademis lebih suka keras dan, bisa jadi, juga lebih beruntung.
Oggi ci sono stati già 1 visitatori (1 hits) qui!

Questo sito web stato creato gratuitamente con SitoWebFaidate.it. Vuoi anche tu un tuo sito web?
Accedi gratuitamente